Sabtu, 06 Oktober 2012

Ayam dan Babi

Suatu ketika Syeikh Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Beberapa mahasiswa menanyakan padanya tentang alasan ajaran Islam mengharamkan babi. "Umat Islam mengatakan babi itu haram karena memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba, dan bakteri-bakteri berbahaya. Sekarang, semua itu sudah hampir tidak ada karena babi dipelihara di peternakan modern, kebersihannya terjamin, dan proses sterilisasi yang sudah memadai. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba berbahaya?"

Muhammad Abduh tidak langsung menjawab. Dengan cerdik beliau minta dihadirkan 2 ekor ayam jantan dan 1 ekor ayam betina, serta 2 ekor babi jantan dan 1 ekor babi betina.

Mereka bertanya, "Untuk apa semua ini?"

"Penuhi apa yang saya minta, maka akan saya perlihatkan satu rahasia," jawab Syeikh

Mereka memenuhi permintaan Muhammad Abduh. Pemikir Islam ini segera mengurung 2 ekor ayam jantan bersama 1 ekor ayam betina dalam 1 kandang. Apa yang terjadi? Dua ekor ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh untuk mendapatkan ayam betina. Setelah itu Muhammad Abduh melepas 2 ekor babi jantan dg 1 ekor babi betina. Kali ini, mereka menyaksikan sebuah "keanehan". Tidak ada sedikit pun perkelahian utk memperebutkan babi betina. Tanpa rasa cemburu dan harga diri, babi jantan yang satu justru membantu babi jantan lainnya melaksanakan hajat seksualnya. Mengapa hal ini terjadi? "

Saudara-saudariku semua, daging babi membunuh 'ghirah' orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian.
Seorang lelaki dari kalian membiarkan istrinya bersama lelaki lain, tanpa rasa cemburu.
Seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, tapi kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu dan was-was.
Sesungguhnya, daging babi itu menularkan sifat-sifat buruk pada orang yang memakannya.

Muhammad Abduh kemudian memberikan contoh-contoh baik dalam syariat Islam. Misalnya, Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran serta memakan kotorannya. Siapapun yang ingin menyembelihnya harus mengurungnya selama beberapa hari serta memberinya pakan yg sesuai. Mengapa? Agar perutnya terbebas dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba berbahaya yang bisa menular pada manusia. Itulah hukum Allah. Itulah perlindungan dan kasih sayang Al-Khaliq kepada manusia.

Bagi wanita, manakah yang terbaik? :)

Analisa: Bagi wanita, manakah yang terbaik? Menikah dengan orang yang mencintainya atau dengan orang yang dicintainya?

Tahukah Anda?

Bagi seorang wanita itu, lebih baik dia menikah dengan orang yang mencintainya daripada dengan pria yang dia cintai, maka saat datang kepadanya seorang lelaki yang baik agamanya, maka bukalah hati Anda untuk menerimanya, karena cinta itu mudah bangkit dan mengikuti jiwa-jiwa yang tunduk ikhlas di hadapan-Nya.

Mengapa demikian?

Mari kita analisa bersama..

Sebelumnya saya tegaskan, analisa saya subjeknya adalah lelaki yang datang melamar dan dia baik agamanya, sedangkan yang dicintai si wanita belum jelas agamanya. Dan ini telah banyak terjadi, yang berujung si wanita tetap dalam penantiannya yang tak menentu bagi akhiratnya serta meninggalkan lelaki yang terbaik untuk agama dan akhiratnya.

---

Analisa pertama:

Wanita ditakdirkan sebagai seorang makmum, maka langkah dan geraknya di masa datang akan sangat terpengaruh oleh suaminya, jika ia mendapatkan seorang suami yang sholeh, maka dengan sendirinya ia mempunyai peluang yang besar untuk mengikutinya, dan jika dia mendapatkan seorang suami yang durhaka, maka besar peluangnya ia akan ikut terseret.

Analisa kedua:

Lelaki yang mencintainya dengan tulus akan mampu memperlakukannya dengan baik di saat dia marah, di saat dia benci, sedangkan lelaki yang dicintainya belum tentu memiliki perasaan yang sebanding, maka keadaan yang terjadi kerap kali si wanita menjadi objek, baik pemerasan, korban, dan sesuatu yang menyakitkan kerap menyapanya, baik itu ringan tangan, ataupun yang lainnya.

Analisa ketiga:

Lelaki yang mencintainya dengan tulus, akan siap berkorban, mampu melindunginya di saat-saat dia membutuhkannya, karena sebagaimana Anda jika memiliki suatu barang kesayangan, tentu takkan rela jika barangnya itu disia-siakan.

Analisa keempat:

Seseorang yang mencintai, biasanya sanggup berkorban untuk yang dicintainya, mendahulukan kepentingannya, mudah memaafkan, berusaha menerima kondisi dan keadaan karakternya, perhatian, dan akan mudah menemui rasa sabarnya dan banyak menanamkan rasa pengertiannya.

Nah itu 4 analisa yang saya dapatkan, adapun kebanyakan kasus yang terjadi adalah kebingungan wanita, "bagaimana mungkin saya menikah dengan orang yang tak saya cintai?". Ini fokus permasalahan utamanya, iya kan?

---

Memang sekilas keterlaluan jika saya menyarankan kepada Anda muslimah untuk menikah dengan orang yang tidak Anda cintai. Tapi sungguh dari banyak kasus dan pengalaman, menikah dengan orang yang mencintai Anda dan dia baik agama serta akhlaknya, jauh lebih berhasil ketimbang dengan yang GaJeBo (baca: Ga Jelas Bo!!)

Karena wanita itu kerap membutuhkan support, kerap membutuhkan suatu penopang di saat-saat tertentu dia mendapatkan masalah, maka seseorang yang baik agamanya dan mencintai dia dengan tulus, akan mampu melakukannya dengan baik, masih tidak percaya?

Seseorang yang GaJeBo, di saat-saat seperti itu biasanya akan cenderung mencuekkan Anda, meninggalkan Anda sendirian, karena keasyikkannya bukanlah dengan Anda, dia hanya merasakan bahwa dia dipuja, dia disanjung, dan Anda takkan mampu hidup tanpanya, maka biasanya tipe seperti ini selalu banyak keinginan, banyak menuntut, minta dimengerti bukan memahami.

Misal, dia akan mengeluh di saat Anda tak mampu memberikannya pelayanan yang baik di saat Anda mengalami masa-masa haidh, di saat terjadi masalah dia akan selalu mengeluhkan kekurangan Anda tanpa merasa dirinya pun banyak melakukan kelalaian, dia merasa super sendirian dan dia mampu berlalu dari kehidupan Anda dengan wajah tanpa dosa di saat dia meninggalkan Anda (baca: bercerai). Dia sanggup meninggalkan Anda yang sibuk dengan anak-anak Anda, dia sama sekali tak bertanggung jawab terhadap anak-anaknya dengan berbagai dalih dan alasan, entah itu tak memiliki pekerjaan, tak memiliki kelebihan nafkah, dia LUPA bahwasanya kewajibannyalah selaku ayah, imam, pengayom dan pembimbing yang wajib menafkahi anak-anaknya sekalipun sudah berpisah. Dia bermental banci, berani berbuat tapi takut tanggung jawab, dia tidak merasakan rasa malu sedikitpun bahwasanya, "Kok malah istrinya, ibu dari anak-anaknya yang membiayai dan menghidupi anak-anaknya, padahal di satu sisi dia seorang pria yang gagah perkasa dan layak dihormati oleh istrinya !!!"

Nah itulah sekelumit gambaran, sekelumit analisa, mengapa Anda sebaiknya menikah dengan orang yang mencintai Anda muslimah dan dia telah Anda dapati dengan sebenar-benarnya adalah seorang yang sholeh dan baik agamanya, maka sekalipun fisiknya tidak sreg di hati Anda, penghasilannya jauh di bawah Anda, maka lupakan itu, targetkan akhirat Anda, karena kehidupan Anda tidak selamanya hanya dengan ketampanan, dan roda pun berputar, tak selamanya si miskin itu berjalan kaki, suatu hari dia, jika Allah kehendaki dia akan mampu mengantar Anda dengan sebuah mobil BMW!! Insya Allah..

---

Nah sebagai penutup, maka saya sedikit singgung beberapa hal yang mesti Anda lirik dari calon suami Anda sendiri:

Pilih yang lurus aqidahnya, karena kunci syurga dan neraka ada pada aqidahnya.

Pilih yang memiliki pemahaman ilmu yang cukup baik, saya tak mengatakan yang mumpuni sekelas ustadz-ustadz alumnus Yaman atau Madinah, tapi setidaknya dia seorang yang mau belajar dan terus belajar dan mampu mengukur kekurangan dirinya, artinya bukan yang merasa SOTOY (Sok Tahu) tapi yang mau diluruskan dan menerima masukan yang berharga. Karena kelak, sebaik-baiknya pengajar Anda adalah suami Anda sendiri.
Pilih yang baik akhlaknya, karena ada sebagian yang memiliki pemahaman baik dan aqidah yang lurus, namun memiliki temperamen dan akhlak yang buruk. Bukankah sebaik-baiknya muslim adalah yang memperlakukan istrinya dengan baik? Dan kunci rumah tangga (yang) sukses adalah akhlak yang baik dari suami dan istri. Dengan akhlak yang baik, masalah-masalah yang terjadi bisa diselesaikan dengan cara yang baik pula.

Nah, memang tak mudah untuk menggapai dan meraih semua point di atas, kuncinya adalah carilah tahu kepada orang-orang yang mengenalnya dengan baik, bagaimana keadaan dia, bagaimana pemahaman dan kelurusan aqidahnya.

Selain itu, jangan biarkan dia sendirian berjuang memperjuangkan permintaannya kepada keluarga Anda. Namun Anda pun mesti membantu perjuangannya demi mendapatkan akhirat Anda yang baik, dan terakhir saya katakan kepada Anda, KEMISKINAN CALON SUAMI BUKAN PENGHALANG ANDA MENIKAH DENGANNYA, KECUALI JIKA ANDA SUDAH MENGUKUR DAN MENUKAR AKHIRAT ANDA DENGAN URUSAN DUNIA YANG SERBA RIBET. MAKA NASEHAT SAYA INI PUN TAK LAGI MENJADI BERHARGA !!!

Selamat berjuang saudariku. Semoga Allah memudahkan urusan engkau saudariku.

Allahu a'lam..

Jumat, 05 Oktober 2012

Sepuluh ribu rupiah

Menjelang shalat Isya, seorang wartawan duduk kelelahan di halaman sebuah masjid. Perutnya bertalu-talu karena keroncongan. Kepalanya clingak-clinguk mencari tukang jual makanan, tapi tak kunjung menemukannya. Dari wajahnya, tampak gurat-gurat kekecewaan.

Usut punya usut, si Wartawan ini tengah kecewa berat karena gagal bertemu dengan seorang tokoh yang hendak diwawancarai. Betapa tidak kecewa, sejak siang hari dia sudah "mengejar-ngejar" tokoh tersebut. Siang hari, mereka janji bertemu di sebuah kantor.

Beberapa saat sebelum waktu pertemuan itu berlangsung, tokoh penting ini mendadak membatalkan janji, ada acara mendadak katanya. Militansinya sebagai seorang wartawan untuk mendapatkan berita telah membuat pria muda ini mendatangi hotel tempat si Pejabat meeting. Dua jam lamanya, dia menunggu. Namun sial, si Pejabat itu keluar dari pintu samping hotel sehingga tidak sempat bertemu sang Wartawan.

Tidak mau patah arang, dia segera mencari tahu di mana keberadaan pejabat itu. Dia pun mendapatkan informasi bahwa orang yang dicarinya itu sudah pulang ke rumahnya di sebuah kompleks perumahan elite. Tanpa banyak berpikir, sang Wartawan tancap gas. Dengan motornya yang sudah agak butut, dia mendatangi perumahan tersebut. Walau harus tanya sana-tanya sini, akhirnya dia bisa sampai ke rumah si Pejabat.

"Aduh maaf, Mas, Bapaknya barusan pergi lagi. Ada pertemuan lagi katanya. Tapi, Bapak nggak bilang di mananya," kata si penghuni rumah.

Lunglailah kaki si Wartawan. Dia pun pergi. Berkali-kali dia coba mengontak si pejabat, tetapi berkali-kali pula ponselnya tidak diangkat. Sudah terbayang di benaknya kalau nanti malam dia akan ditegur atasannya karena tidak mampu mendapatkan berita. Perutnya yang keroncongan seakan menambah derita.

Saat duduk di masjid itulah, dia melihat seorang kakek yang baru saja menunaikan shalat maghrib. Dipandanginya kakek itu. Tampangnya sangat tidak meyakinkan: tinggi, kurus, jambang putihnya tidak terurus, pakaiannya sangat sederhana dan sudah luntur warnanya, sandal jepitnya pun sudah butut.

Kakek itu menghampiri sebuah tanggungan kayu bakar. Lalu, mengambil topi dan duduk melepas lelah tak jauh dari tempat si Wartawan. Kerutan wajahnya yang hitam terbakar matahari seakan tampak makin mengerut karena kelelahan.

"Cep, peryogi suluh henteu? Peserlah suluh anu Bapa, ieu ti enjing-enjing teu acan pajeng!" kata Pak Tua kepada si Wartawan. Maksudnya, dia menawarkan kayu bakar yang dibawanya karena sejak dari pagi tidak laku-laku.

"Punten Bapa, abdi di Bumi teu nganggo suluh (Maaf Bapak, saya di rumah tidak menggunakan kayu bakar)," jawabnya.

"Oh muhun, teu sawios. Mangga atuh, Bapa tipayun, (Oh iya, nggak apa-apa. Kalau begitu permisi, Bapak duluan)," ujar Pak Tua penjual kayu bakar itu.

Sebelum Pak Tua itu pergi, si Wartawan segera mengambil dompet. Dilihatnya hanya ada uang sepuluh ribu, satu-satunya, plus beberapa keping uang receh. Itulah hartanya yang tersisa pada hari itu untuk makan dan membeli bensin. Namun, semua itu dia abaikan. Dia berikan uang sepuluh ribu itu kepada Pak Tua. Walau awalnya menolak, tapi akhirnya dia menerimanya pula.

Sambil menahan tangis haru, Pak Tua berkata, "Hatur nuhun Kasep, tos nulungan Bapak. Mugi-mugi Gusti Alloh ngagentosan kunu langkung ageung (Terima kasih, Cakep, sudah menolong Bapak, semoga Gusti Allah menggantinya dengan yang lebih besar)." Ternyata, Bapak ini sejak pagi belum makan dan tidak punya uang untuk pulang.

Selembar sepuluh ribu telah mengubah segalanya. Dia te-lah sudi memasukkan rasa bahagia kepada saudaranya yang tengah kesusahan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. pun langsung membalasnya dengan memasukkan rasa bahagia yang berlipat-lipat ke dalam hatinya.

Rasa lapar, penat, dan hati dongkol yang sebelumnya mendominasi dirinya langsung hilang sirna berganti kelapangan dan kebahagiaan. Uang sepuluh ribu itu benar-benar memberikan kepuasan yang sensasinya sulit terlupakan. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain dari tetesan air mata bahagia. "Terima kasih, ya Allah, engkau telah memberiku rezeki sehingga bisa berbagi," gumamnya.

Tak lama kemudian, datanglah karunia yang kedua. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, dilihatnya sebuah pesan dari atasannya kalau dia tidak perlu lagi mengejar si Pejabat karena ada narasumber lain yang lebih kompeten yang siap diwawancara seorang rekannya. Dia hanya memberi penugasan untuk meliput sebuah acara syukuran di salah satu hotel berbintang.

Karunia Allah yang ketiga pun segera datang. Di sela-sela acara liputan di hotel itu, sang Wartawan dipersilakan oleh panitia untuk menikmati hidangan mewah yang tersedia sepuasnya. Menjelang pulang, dia mendapatkan sebuah doorprize dan beberapa buah bingkisan sebagai ucapan terima kasih dari pihak penyelenggara. "Malam yang indah ...," ujarnya.

___

Walau balasan untuk kebaikan dan kejahatan itu dijanjikan Tuhan pada hari kebangkitan, tetap saja muncul suatu keadaan yang mewakili balasan itu. Apabila manusia bergembira di dalam hatinya, itu adalah balasan karena telah membuat orang lain bahagia.

Apabila sedih, itulah balasan karena telah membuat orang lain sedih.

Terdapat suatu bentuk balasan sebagai pemisah hari kebangkitan.

"Serahkan pada اَللّهُ"

A : "Sist, mau nikah ya?"
B : "Insya اَللّهُ mau lah.. Kan sunnah Rasulullah.."
A : "Udah punya calon?"
B : "Alhamdulillah sudah, kan sudah ditulis sama اَللّهُ"
A : "Siapa dia?"
B : "Insya اَللّهُ dia adalah lelaki pilihan اَللّهُ"
A : "Mengapa mau nikah sama dia?"
B : "Insya اَللّهُ memilih dia karena اَللّهُ"
A : "Bagaimana nanti ketemunya?"
B : "Yakin saja,اَللّهُ punya cara yang tak pernah kita duga. Percaya saja sama اَللّهُ "
A : "Lah, kapan donk nikahnya?"
B : "Hmm.. اَللّهُ Maha Tahu kok kapan waktu yang tepat dan terbaik"
A : "Terus dimana ketemunya?"
B : "Tenang... Masih di bumi اَللّهُ , klo toh memang tidak di dunia, Insya اَللّهُ di syurganya اَللّهُ "
A : "Jadi..."
 B : "Serahkan pada اَللّهُ, niatkn tuk gapai ridhaNya semata. Insya اَللّهُ beres! ^_^"

*Kata seorg ustadzah, "Apapun yg brkaitan dgn rezeki (trmsk jodoh), jgn diletakkan di hati! Tapi benar2 serahkn pada اَللّهُ.."

Kamis, 04 Oktober 2012

BERSYUKUR MELALUI PECEL LELE

Karena hujan yg tidak kunjung berhenti, akhirnya saya memutuskan menerobos hujan karena hari sudah malam & sampai Tegalega, perut dah ga bisa diajak kompromi, akhirnya saya memutuskan mampir di warung nasi tenda dipinggir jalan..

Lagi asik asiknya menikmati pecel lele, masuklah seorang bapak, dg istri & 2 anaknya. Yang menarik adalah kendaraan mereka adalah gerobak dorong.

Lalu bapak ini memesan 2 piring nasi & pecel lele, untuk istri & anaknya. Pertamanya sih ga ada yg menarik, tetapi ketika saya selesai makan, ada yg menarik hati saya..Ternyata, yg menikmati makanan itu HANYA istri dan anaknya. Sedangkan sang bapak hanya melihat istri & anaknya menikmati makanan ini. Sesekali saya melihat anak ini tertawa senang sekali & sangat menikmati pecel lele yang dipesan oleh bapaknya.

Saya perhatikan, wajah sang bapak, walau tampak kelelahan, terlihat SENYUM BAHAGIA di wajahnya.
Lalu saya mendengar dia berkata, "...Makan yg puas yaa Nak, toh..hari ini tanggal kelahiranmu..". Rupanya mereka sedang merayakan Ulang Tahun anak mereka....

Saya terharu mendengarnya. Seorang bapak, dengan segala keterbatasannya, sebagai (mungkin) pemulung.. membeli ayam goreng warung tenda dipinggir jalan, untuk hadiah anaknya.

Hampir mau menangis rasanya saya di warung itu.
Segera sebelum air mata ini tumpah, saya berdiri & membayar makanan saya & juga dengan pelan pelan saya bilang sama penjaga warung, "Mas, tagihan bapak itu, saya yg bayar...dan tolong tambahin ayam goreng dan tahu tempe". Lalu lekas lekas saya pergi...

 Kisah ini ditulis untuk bahan perenungan. Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah memberikan yang terbaik untuk saya saat ini. Kita biasa makan di Sushi-Tei, Kentucky, Mc Donald, Hoka Hoka Bento, Pizza Hut dsb... Tetapi bagi orang disekitar kita, pecel lele dipinggir jalan, adalah makanan MEWAH buat mereka....

Sungguh TAK PANTAS bagi saya untuk mengeluh. Semoga bermanfaat. Sungguh rasa syukur akan mengantarkan rasa bahagia...

Quotes:
"Saat kita merasa BENCI dengan hidup kita, pikirkanlah kembali. Karena ada banyak orang yang memimpikan hidup seperti hidup kita saat ini...".

"Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya....".